Sunday, January 6, 2013

7 Band Yang Menghancurkan Diri Sendiri

Selamat datang, selamat membaca. Semoga bermanfaat. :)

http://klimg.com/kapanlagi.com/p/over-07.jpg

Popularitas dan tuntutan pasar bisa mengubah idealis yang dianut oleh sebuah band. Bahkan untuk tetap menjaga agar pundi-pundi uang bisa mengalir deras tak ragu-ragu para musisi ini mengubah konsep awal mereka bermusik.

Mereka menuruti permintaan industri dengan apa yang tengah hip saat ini. Tak sedikit band yang dulunya enak dan memiliki karakter tersendiri harus berubah akibat tuntutan pasar. Tak bisa mengelak, pasalnya pilihan terburuk adalah bubar atau tetap bertahan dengan hanya berkutat di sekitar saja.

Berikut adalah band yang dinilai telah berubah dan dianggap berlebihan dalam konsep bermusiknya. Mereka telah mengubah secara drastis konsep awal dan disayangkan oleh banyak kritikus.

1. Bon Jovi

http://klimg.com/kapanlagi.com/p/over-01.jpg

Para pengamat musik menilai jika puncak gemilang karir Bon jovi ada pada album These Days dan selebihnya hanyalah sebuah album permintaan pasar. Bisa dilihat dari penjualan album circa These Days dan sebelumnya dan dinilai oleh kritikus sebagai album terbaik dan menciptakan hits di setiap singlenya. Sedangkan yang terbaru hanya beberapa single saja yang baik selebihnya biasa saja. Bahkan album akustik Bon Jovi dinilai buruk dalam aransemen walau sebenarnya sebuah langkah yang sangat berani.

2. Red Hot Chilli Peppers

http://klimg.com/kapanlagi.com/p/over-02.jpg

Band pengusung funk ini bisa dibilang konsisten dalam berkarya. Mereka tetap setia mempertahankan akar musik yang telah diusung sejak awal. Namun seiring popularitas dan tuntutan agar mereka membuat sebuah single yang catchy menjadikan blunder bagi RHCP. Kini RHCP mencoba kembali lagi pada masa awal dan hasilnya sangat bagus baik dari respon pendengar dan para kritikus.

3. Green Day

http://klimg.com/kapanlagi.com/p/over-03.jpg

Jauh sebelum album American Idiot keluar, Green Day adalah band yang enerjik dengan semangat punk yang menyala-nyala. Mereka adalah ikon pemberontakan bagi para kaum muda saat itu. Namun seiring popularitas meningkat, keliaran mereka perlahan-lahan semakin tertata. Bukan lantaran faktor usia, melainkan para industri yang mencoba mengendalikan mereka. Green Day bukan lag sebuah musik, melainkan sebuah franchise untuk attitude dan pakaian dan masih banyak lagi.

4. U2

http://klimg.com/kapanlagi.com/p/over-04.jpg

Di masa awal U2 adalah band imajinatif dan banyak mempengaruhi band lain dalam berkarya. Karya U2 dinilai fenomenal dengan konsep yang cukup jenius baik dalam segi lirik, vokal dan arransemen. Namun popularitas yang mereka reguk malah menghasilkan sebuah karya yang dinilai sebagai permintaan publik. Tak ada karya fenomenal yang membuat orang terkejut seperti dulu.

5. Guns N Roses

http://klimg.com/kapanlagi.com/p/over-05.jpg

Ambisi adalah alasan mengapa band hebat ini bubar. Popularitas yang menanjak membuat mereka merasa dituntut untuk harus tampil lebih  dan membuat sebuah karya setiap saat. Seakan ada tekanan membuat band ini akhirnya pecah dan bubar. Dan lagi-lagi ambisi lah yang membuat band ini bangkit namun kehilangan nyawa seperti dulu lagi.

6. Metallica

http://klimg.com/kapanlagi.com/p/over-06.jpg
 
Seiring usia, Metallica juga mengalami perubahan musikalitas. Mulai dari era thrash metal hingga ke heavy metal. Namun dalam transisi tersebut ada banyak hal yang disayangkan oleh penggemarnya, terutama saat Metallica membuat lagu yang sedikit ballad. Mereka menilai jika musikalitas Metallica melemah dan hanya mempertahankan sisa kejayaan mereka. Jawaban dari publik yang meminta Metallica tetap gahar dan cepat akhirnya diberikan lewat album Magnetic yang mengubah persepsi fansnya.
7. Nirvana

http://klimg.com/kapanlagi.com/p/over-07.jpg

Sepertinya Kurt Cobain tak bisa tenang di alam kuburnya. Bagaimana tidak popularitas yang ia benci sejak dulu terus digali dalam bentuk kaos, pakaian dan  semua atas nama pemberontakan dan dirinya. Kurt adalah ikon pemberontakan dalam bermusik di tahun 90-an sekaligus sebagai jawaban akan generasi muda di era tersebut. Menjadi terkenal tak membuat Kurt bangga, dia merasakan ada tekanan dari pihak yang menuntutnya berbuat lebih. Tekanan ini berakhir dengan mengerikan dimana dia mengakhiri hidupnya. Namun permasalahan ini tidak berakhir, nama Nirvana dan hal yang berbau Kurt Cobain masih menjadi komoditas hingga saat ini.

Sumber : Tentang Musik

No comments:

Post a Comment